Geliat Pusaka Rakyat dan Gebyuran Bustaman

 

Dokumentasi Pekakota

Dokumentasi Pekakota

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk turut hadir dalam acara Gebyuran Bustaman di Kampung Bustaman, Purwodinatan Semarang. Saya diundang oleh kawan-kawan kolektif Hysteria untuk menjadi pemantik dalam acara diskusi Pekakota Forum 15 “Pusaka Rakyat Sebuah Tawaran” yang merupakan rangkaian acara Gebyuran Bustaman. Continue reading

Advertisements

Memori Sebuah Kota Bernama Gombong

DSC_0458

“What is the city but the people?” ~ William Shakespeare

Gombong adalah kota kedua setelah Bogor dimana saya banyak membangun keakraban bersama warganya. Bagi seseorang yang seumur hidupnya tinggal di kawasan Jabodetabek dengan suasana dan ritme khas kota besar, mengakrabi sebuah kota kecil dengan suasana pedesaan yang masih cukup kental adalah seperti menemukan sedikit oase tempat istirahat dalam perjalanan kelana. Continue reading

Pulo Geulis dan Narasi Sejarah

Pulo GeulisSaya lupa kapan tepatnya saya berkenalan dengan Pak Bram, mungkin sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu. Pak Bram adalah seorang tokoh di Pulo Geulis, sebuah daratan yang membelah sungai Ciliwung. Beliau sangat aktif di berbagai kegiatan sosial masyarakat dan tidak hanya sampai disitu, Pak Bram juga sangat telaten dalam memelihara cerita tentang kampungnya yang diturunkan dari generasi-generasi sebelumnya, Continue reading

Refleksi di Hari Pusaka Dunia: Pusaka Sebagai Wahana Keseimbangan Psikologi Homeostasis

11140252_10152882041028940_7359592856003792964_nSedari awal saya berkenalan dengan diskursus pusaka atau heritage, saya sama sekali tidak pernah tertarik untuk membahas tentang bagaimana pusaka (apapun bentuknya) dapat memperkuat identitas bangsa atau memperkuat ketahanan Nasional dan NKRI. Continue reading

Mewujudkan Kota Pusaka Yang Berketahanan

Catatan kecil dari diskusi “Tata Kelola Kota Pusaka Sebagai Kota Tangguh Bencana” Sustainable Urban Development Forum Indonesia, 24 Desember 2014.

Tidak ada yang menyangkal bahwa wilayah Indonesia berada pada wilayah ring of fires, atau rawan bencana, kita bahkan pantas menyandang gelar sebagai “supermarket bencana” berdasarkan apa yang telah kita alami. Dalam kurun waktu 2004 sampai 2007 saja terjadi banyak bencana yang menelan ratusan ribu korban jiwa dan ratusan ribu masyarakat lainnya kehilangan tempat tinggal; Tsunami di Aceh, gempa bumi di Yogyakarta dan banjir di Sulawesi, Sumatera dan Jakarta. Bencana-bencana tersebut yang akhirnya melahirkan beberapa legislasi diantaranya adalah UU RI no 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana dan Perpres no. 8 Tahun 2008 Tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang mewujud dalam kelembagaan BNPB dan BNPD. Continue reading