Refleksi di Hari Pusaka Dunia: Pusaka Sebagai Wahana Keseimbangan Psikologi Homeostasis

11140252_10152882041028940_7359592856003792964_nSedari awal saya berkenalan dengan diskursus pusaka atau heritage, saya sama sekali tidak pernah tertarik untuk membahas tentang bagaimana pusaka (apapun bentuknya) dapat memperkuat identitas bangsa atau memperkuat ketahanan Nasional dan NKRI. Bagi saya terlalu horror berbicara hal itu, sejak saya merasa sesuatu yang amat personal tersentuh ketika membahas soal pusaka. Saya selalu berfikir bahwa pusaka dapat memenuhi sebuah kebutuhan eksistensial kita sebagai manusia. Kesempatan untuk pergi ke beberapa Kota dan Kabupaten di Indonesia dan menyaksikan betapa pusaka begitu mempengaruhi kehidupan masyarakat, seperti misalnya bagaimana pranata adat begitu berperan meredam konflik horizontal yang terjadi di beberapa daerah, sangat menambah kekayaan batin sebagai manusia dan membuat saya tidak ingin menyerah pada kemanusiaan kita.

Seorang psikolog sekaligus antropolog asal Amerika Francis Hsu pernah menulis sebuah karangan berjudul “Psychological Homeostasis and Jen”. Berdasarkan tulisannya tersebut, menurut Hsu dalam psiko sosiogram manusia ada lingkaran dalam alam rohani manusia yang disebut “lingkaran hubungan karib” (intimate society), daerah dalam alam pikiran manusia ini ditempati oleh pikiran-pikiran, dan perasaan-perasaan terhadap binatang kesayangan, benda kesayangan, benda pusaka, dan juga oleh hal-hal, ide-ide atau ideologi-ideologi yang dapat menjadi sasaran rasa kebaktian penuh dari jiwa manusia. Pencarian “lingkungan karib” sudah menjadi sikap hidup bagi manusia yang akan dibawanya kemana-mana. Baru kalau ada “lingkungan karib” dan “masyarakat hubungan karib” dalam kehidupan manusia, maka jiwanya hidup dalam suatu keseimbangan selaras, yang oleh Hsu disebut keseimbangan homeostasis psikologi (psychological homeostasis).

Jalur untuk menemukan “masyarakat hubungan karib” sangat bisa  dipenuhi melalui jalur kebaktian berdasarkan cinta dan kemesraan pada pusaka atau tradisi dan kebudayaan suku bangsa yang diwariskan secara turun temurun sehingga kehidupan manusia dapat mengakar pada lingkungannya.

Hari ini izinkan saya mengucap: Selamat Hari Pusaka Dunia 2015!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s