Memori Sebuah Kota Bernama Gombong

DSC_0458

“What is the city but the people?” ~ William Shakespeare

Gombong adalah kota kedua setelah Bogor dimana saya banyak membangun keakraban bersama warganya. Bagi seseorang yang seumur hidupnya tinggal di kawasan Jabodetabek dengan suasana dan ritme khas kota besar, mengakrabi sebuah kota kecil dengan suasana pedesaan yang masih cukup kental adalah seperti menemukan sedikit oase tempat istirahat dalam perjalanan kelana. Saya tentu tidak mempunyai libido menjadikan Gombong sebagai identitas terkehendaki karena nyatanya saya toh tidak memiliki kaitan apapun dengan kota tersebut kecuali menjalankan pekerjaan, meskipun dalam beberapa masa dalam hidup terkadang saya juga membayangkan mempunyai kampung untuk pulang (sama seperti jutaan orang lain yang hidup di Jabodetabek yang selalu merasa penting untuk tetap memiliki “identitas asli daerah”) dan hal itu sedikit dipenuhi oleh perjalanan Jakarta – Gombong.

Gombong sebuah Kota Kecamatan di Kabupaten Kebumen Jawa Tengah jaraknya 6 jam jika kita tempuh dengan kereta api dari Jakarta. Memiliki luas wilayah yang mencapai 128.111 ha membuat penduduk Kebumen merasa mereka terbelah oleh garis imajiner kebudayaan, sebelah barat, termasuk Gombong lebih dekat dengan budaya rakyat Banyumasan dan sebelah timur merasa dipengaruhi oleh budaya keratonan Yogyakarta. Hal itu yang membuat banyak penduduknya berada di daerah antara, daerah yang bukan ini dan bukan itu, lalu pencarian abadi tentang yang ‘asli’ dan ‘lokal’ pun dimulai.

Dua tahun sudah lamanya saya bekerja merancang kegiatan-kegiatan untuk Roemah Martha Tilaar di Gombong. Pekerjaan yang melibatkan interaksi dengan warga mulai dari model obrolan warung kopi sampai diskusi ala akademisi telah dilakoni. Selama itu pula Roemah Martha Tilaar telah berubah menjadi ruang publik. Ruang publik yang dimana warganya memungkinkan untuk mewacanakan pemaknaan kembali lingkungan hidup mereka dan merangkai pengalaman sosial. Melalui Roemah Martha Tilaar inilah dua hari kemarin bersama rekan dari Urban Rural Design and Conservation Universitas Sebelas Maret Surakarta bekerja sama untuk mengadakan Workshop Jelajah Pusaka & Cultural Mapping. Workshop yang diikuti oleh belasan rekan-rekan muda dari beberapa SMA di Gombong dan sekitarnya.

Menarik melihat bagaimana reaksi rekan-rekan muda tersebut ketika diajak untuk kembali mengakrabi lingkungan tempat tinggalnya, mencoba melirik kembali hal-hal yang selama ini dianggap remeh temeh karena sudah menjadi bagian keseharian mereka. Ada yang terkesima dengan kegigihan orang-orang lanjut usia yang masih bekerja di satu pabrik rokok yang juga sudah sama lanjut usianya,ada pula yang tertarik dengan budaya kematian warga Tionghoa atau pohon-pohon yang selama ini mengisi lanskap kota. Dua hari memang terlalu singkat untuk membentuk kontur memori tetapi para peserta workshop terlihat membulatkan tekad untuk terus menemukenali lingkungan tempat tinggal mereka, merajut memori, membentuk identitas. Pada merekalah harapan masa depan kita bertumpu.

Hari Pusaka Dunia!

 

18 April 2016

Perjalanan Gombong – Jakarta

Advertisements

2 thoughts on “Memori Sebuah Kota Bernama Gombong

  1. Terima kasih sudah mengulas kota gombong secara singkat, RMT kalau saya ga salah baca infonya telah dijadikan cagar budaya. Di kota Gombong tersebut juga ada bangunan tua sekali yaitu benteng van der wijck. Jika dicari di google images “benteng van der wijck” akan terlihat betapa tuanya bangunan itu.

    • Sama-sama Pak Walidin. RMT belum diregister secara resmi menjadi cagar budaya. Iya Pak, saya sudah beberapa kali ke benteng tersebut 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s