Geliat Pusaka Rakyat dan Gebyuran Bustaman

 

Dokumentasi Pekakota

Dokumentasi Pekakota

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk turut hadir dalam acara Gebyuran Bustaman di Kampung Bustaman, Purwodinatan Semarang. Saya diundang oleh kawan-kawan kolektif Hysteria untuk menjadi pemantik dalam acara diskusi Pekakota Forum 15 “Pusaka Rakyat Sebuah Tawaran” yang merupakan rangkaian acara Gebyuran Bustaman.  Berdiskusi langsung dengan warga kampung Bustaman yang kadang disela serombongan kambing yang akan disemblih adalah satu pengalaman tersendiri yang berkesan buat saya.

Gebyuran Bustaman berdasarkan cerita kawan-kawan dan dari selebaran yang dibagikan oleh warga adalah perayaan tahunan menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi ini setidaknya sudah hidup di kampung Bustaman selama ratusan tahun. Air gebyuran diambil dari sumur tua (seusia kampung dibangun tahun 1740-an) peninggalan Kiai Bustam. Gebyuran sendiri memiliki makna filosofis untuk membersihkan diri menjelang ibadah puasa. Gebyuran kemudian dilestarikan oleh warga dan menjadi tradisi kampung.

Acara puncak gebyuran dimulai selepas ibadah sholat Ashar, seisi kampung riuh turut serta. Semua berbasah-basah, ada yang digebyur dengan selang, ember, bahkan sebagian warga menyiapkan air di dalam kantung-kantung plastik yang dijadikan ‘senjata’ tinggal lempar maka byurr akan membasahi orang yang terkena lemparan kantung plastik tersebut. Hampir seluruh warga kampung segala lapisan usia larut dalam kegembiraan merayakan tradisi, sejenak tampak lepas dari segala masalah yang merundung, tidak pula ada warga yang marah atau emosi terkena banjuran, semua tertawa lepas terlibat dalam ‘perang’ air. Acara gebyuran biasanya ditutup dengan kegiatan makan bersama. Tentunya ada santapan daging kambing yang terkenal dari Kampung Bustaman itu. Gebyuran Bustaman memperlihatkan bagaimana tradisi kampung turut menjaga keguyuban warga, turut menjelma jadi ruang bersama.

Setelah semua kemeriahan usai dan saya harus segera beranjak kembali ke Jakarta, saya hanya berpikir seperti apa kira-kira wajah dunia jika seluruh warganya setiap hari selalu merayakan hidup dengan antusiasme dan kegembiraan seperti yang terlihat pada acara Gebyuran Bustaman?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s